Kamis, 04 April 2013

makalah sistem pernafasan



BAB I
PENDAHULUAN
1.  Latar Belakang

Manusia dalam bernapas menghirup oksigen dalam udara bebas dan membuang karbondioksida ke lingkungan. Pernapasan adalah proses ganda yaitu terjadinya pertukaran gas di dalam jaringan atau pernapasan dalam dan yang terjadi didalam paru-paru pernapasan luar. Pernapasan Luar yang merupakan pertukaran antara O2 dan CO2 antara darah dan udara. Pernapasan Dalam yang merupakan pertukaran O2 dan CO2 dari aliran darah ke sel-sel tubuh.
Sistem pernapasan atau sistem respirasi adalah sistem organ yang digunakan untuk pertukaran gas. Sistem pernafasan terdiri daripada hidung , trakea , peparu , tulang rusuk ,otot interkosta bronkus bronkiol,alveolus dan diafragma. Udara disedot ke dalam paru-paru melalui hidung dan trakea. Dinding trakea disokong oleh gelang rawan supaya menjadi kuat dan sentiasa terbuka. Trakea bercabang kepada bronkus kanan dan bronkus kiri yang disambungkan keparu-paru. Kedua-dua bronkus bercabang lagi kepada bronkiol dan alveolus pada hujung bronkiol.

2.   Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu :
1.       Memenuhi tugas mata kuliah Modul.
2.       Sebagai media pembelajaran mahasiswa.

3.  Manfaat  
1. .      Untuk mengetahui lebih mendalam apa itu Sistem Pernapasan.
2.      Bagaimana cara Sistem Pernapasan pada manusia.
3.      Untuk memahami struktur organ pernafasan .
4.      Untuk memahami fungsi organ pernafasan dan dapat menjelaskan fungsi organ pernapasan.


BAB II
PEMBAHASAN
1.  SISTEM PERNAPASAN

A.  PENGERTIAN

Pengertian pernafasan atau respirasi adalah suatu proses mulai dari pengambilan oksigen, pengeluaran karbohidrat hingga penggunaan energi di dalam tubuh. Menusia dalam bernapas menghirup oksigen dalam udara bebas dan membuang karbondioksida ke lingkungan. Sistem pernafasan pada dasarnya dibentuk oleh jalan atau saluran nafas dan paru- paru beserta pembungkusnya (pleura) dan rongga dada yang melindunginya. Di dalam rongga dada terdapat juga jantung di dalamnya. Rongga dada dipisahkan dengan rongga perut olehdiafragma.

B.  ANATOMI PERNAPASAN

Alat pernapasan adalah alat atau bagian tubuh tempat O2 dapat berdifusi masuk dan sebaliknya CO2 dapat berdifusi keluar pada respirasi aerob. Alat pernapasan pada manusia terdiri atas rongga hidung, faring ( tekak), laring (pangkal tenggorokan), bronkus (cabang batang tenggorokan), dan pulmo (paru-paru).

1.      Rongga hidung ( cavum nasalis)           
Udara dari luar akan masuk lewat rongga hidung (cavum nasalis). Rongga hidung berlapis selaput lendir. Selaput lendir berfungsi menangkap benda asing yang masuk lewat saluran pernapasan. Selain itu, terdapat juga rambut pendek dan tebal yang berfungsi menyaring partikel kotoran yang masuk bersama udara. Juga terdapat konka yang mempunyai banyak kapiler darah yang berfungsi menghangatkan udara yang masuk. Jadi, rongga hidung berfungsi untuk: menyaring udara, melembapkan udara, dan memanaskan udara. diperoleh dari lingkungan sekitar. Oksigen diperlukan untuk oksidasi (pembakaran) zat makanan, yaitu gula (glukosa). Proses oksidasi makanan bertujuan untuk menghasilkan energi. Energi yang dihasilkan digunakan untuk aktivitas hidup, misalnya pertumbuhan, mempertahankan suhu
 tubuh, pembakaran sel-sel tubuh, dan kontraksi otot. Selain menghasilkan energi,pernapasan juga menghasilkan karbon dioksida, dan uap air. 

2. Faring ( tekak)
Udara dari rongga hidung masuk ke faring. Faring berbentuk seperti tabung corong, terletak di belakang rongga hidung dan mulut, dan tersusun dari otot rangka. Faring berfungsi sebagai jalannya udara dan makanan. Faring merupakan percabangan 2 saluran, yaitu saluran pernapasan ( nasofaring) pada bagian depan dan saluran pencernaan ( orofaring)pada bagian belakang.

3. Laring (pangkal tenggorokan)
Laring terletak antara faring dan trakea. Laring tersusun atas Sembilan buah tulang rawan. Bagian dalam dindingnya digerakkan oleh otot untuk menutup serta membuka glotis. Glotis adalah lubang mirip celah yang menghubungkan trakea dengan faring. Laring memiliki katup yang disebut epiglotis. Pada saat menelan makanan, epiglotis tertutup sehingga makanan tidak masuk ke tenggorokan tetapi menuju kerongkongan. Makan sambil berbicara dapat mengakibatkan makanan masuk ke saluran pernapasan karena saluran pernapasan pada saat tersebut sedang terbuka. Walaupun demikian, saraf kita akan mengatur agar peristiwa menelan, bernapas, dan berbicara tidak terjadi bersamaan sehingga mengakibatkan gangguan kesehatan. Di dalam laring, selain terdapat epiglotis juga ditemukan adanya pita suara. Masuknya udara melalui faring akan menyebabkan pita suara bergetar dan terdengar sebagai suara.

4. Tenggorokan ( trakea)                   
Tenggorokan berupa pipa yang panjangnya ± 10 cm, terletak sebagian di leher dan sebagian di rongga dada. Dinding tenggorokan tipis dan kaku, dikelilingi oleh cincin tulang rawan, dan pada bagian dalam rongga bersilia. Silia silia ini berfungsi menyaring benda-benda asing yang masuk ke saluran pernapasan.


5.      Bronchus (cabang tenggorokkan)
 Terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri. Disebut bronkus lobaris kanan (3 lobus) dan bronkus lobaris kiri (2 bronkus).  Struktur mendasar dari kedua paru-paru adalah percabangan brongkial yang selanjutnya: bronki, bronkiolus, bronkiolus terminal, bronkiolus respiratorik, duktus alveolar, dan alveoli. Tidak ada kartilago dalam bronkiolus; silia tetap ada sampai bronkiolus respiratorik terkecil.

6.      Pulmo alveolus
Cabang bronchiolus yang paling kecil masuk ke dalam gelembung paru-paru yang disebut alveolus. Dinding alveolus mengandung banyak kapiler darah. melalui kapiler darah oksigen yang berada dalam alveolus berdifusi masuk ke dalam darah.
7.       Paru-paru

 Paru-paru adalah organ berbentuk pramid seperti spons dan berisi udara, terletak dalam rongga toraks.  Paru Kanan memiliki 3 Lobus; paru kiri memiliki 2 lobus.  Setiap paru memiliki sebuah apeks yang mencapai bagian atas iga pertama, sebuah permukaan diafragmatik(bagian dasar)terletak di atas diafragma, sebuah permukaan mediastinal(medial) yang terpisah dari paru lain oleh mediastinum, dan permukaan kostal teretak diatas kerangka iga.  Permukaan mediastinal memiliki Hilus(akar), tempat masuk dan keluarnya pembuluh darah bronki, pulmonary, dan bronkial dari paru.  Setiap paru2 dilindungi oleh selaput membran yang disebut pleura.  Pleura viseral dan parietal. Pleura viseral adalah yang menyelubungi  setiap paru-paru,  Pleura parietal adalah yang melapisi rongga toraks(kerangka iga, diafragma, mediastinum). Pleura parietal  Rongga Pleura(ruang intrapleural) adalah ruang potensial antara pleura parietal dan visceral yang mengandung lapisan tipuis cairan pelumas. Cairan ini disekresi oleh sel- sel pleural sehingga paru-paru dapat mengembang tanpa melakukan friksi. Tekanan cairan(tekanan intrapleural) agak negative dibandingkan tekanan .Atmosfer.  Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfir, hal ini untuk mencegah kolap paru-paru.



C.  FISIOLOGI PERNAPASAN
  Fungsi utama sistem respirasi adalah memenuhi kebutuhan oksigen jaringan tubuh dan membuang karbondioksida sebagai sisa metabolisme serta berperan dalam menjaga keseimbangan asam dan basa.  Sistem respirasi bekerja melalui 3tahapan yaitu ventilasi., difusi, transportasi.
1.    Ventilasi merupakan proses pertukaran udara antara atmosfer dengan alveoli. Proses ini terdiri dari inspirasi (masuknya udara ke paru-paru) dan ekspirasi (keluarnya udara dari paru-paru). Ventilasi terjadi karena adanya perubahan tekanan intra pulmonal,  Ventilasi dipengaruhi oleh :  Kadar oksigen pada atmosfer , Kebersihan jalan nafas ,Daya recoil & complience (kembang kempis) dari paru-paru , Pusat pernafasan
2.    Difusi dalam respirasi merupakan proses pertukaran gas antara alveoli dengan darah pada kapiler paru. Proses difusi terjadi karena perbedaan tekanan, gas berdifusi dari tekanan tinggi ke tekanan rendah.
3.    transportasi Setelah difusi maka selanjutnya terjadi proses transportasi oksigen ke sel-sel yang membutuhkan melalui darah dan pengangkutan karbondioksida sebagai sisa metabolisme ke kapiler paru.
 Setelah transportasi maka terjadilah difusi gas pada sel/jaringan. Difusi gas pada sel/jaringan terjadi karena tekanan parsial oksigen (PO2) intrasel selalu lebih rendah dari PO2 kapiler karena O2 dalam sel selalu digunakan oleh sel. Sebaliknya tekanan parsial karbondioksida (PCO2) intrasel selalu lebih tinggi karena CO2 selalu diproduksi oleh sel sebagai sisa metabolisme.
REGULASI Kebutuhan oksigen tubuh bersifat dinamis, berubah-ubah dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah aktivitas. Saat aktivitas meningkat maka kebutuhan oksigen akan meningkat sehingga kerja sistem respirasi juga meningkat.  Pengaturan  respirasi dipengaruhi oleh :1. Korteks serebri yang dapat mempengaruhi pola respirasi.2. Zat-zat kimiawi : dalam tubuh terdapat kemoresptor yang sensitif terhadap perubahan konsentrasi O2, CO2 dan H+ di aorta, arkus aorta dan arteri karotis.  Gerakan : perubahan gerakan diterima oleh proprioseptor.4. Refleks Heuring Breur : menjaga pengembangan dan pengempisan paru agar optimal.5. Faktor lain : tekanan darah, emosi, suhu, nyeri, aktivitas spinkter ani dan iritasi saluran nafas
D.  METODE PEMBERIAN OKSIGEN

1.    Sistem Aliran Rendah
   Sistem aliran rendah diberikan untuk menambah konsentrasi udara ruangan, bekerja dengan memberikan oksigen pada frekuensi aliran kurang dari volume inspirasi pasien, sisa volume ditarik dari udara ruangan. Karena oksigen ini bercampur dengan udara ruangan, maka FiO2 aktual yang diberikan pada pasien tidak diketahui, menghasilkan FiO2 yang bervariasi tergantung pada tipe pernafasan dengan patokan volume tidal klien. Alat oksigen aliran rendah cocok untuk pasien stabil dengan pola nafas, frekuensi dan volume ventilasi normal, misalnya klien dengan Volume Tidal 500 ml dengan kecepatan pernafasan 16 – 20 kali permenit.

Contoh sistem aliran rendah adalah :
a. kateter nasal
   Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen secara kontinyu dengan aliran 1 – 6 liter/mnt dengan konsentrasi 24% - 44%. Lebih jarang digunakan dari pada kanul nasal. Prosedur pemasangan kateter ini meliputi insersi kateter oksigen ke dalam hidung sampai naso faring. Persentase oksigen yang mencapai paru-paru beragam sesuai kedalaman dan frekuensi pernafasan, terutama jika mukosa nasal membengkak atau pada pasien yang bernafas
melalui mulut.
Keuntungan : Pemberian oksigen stabil, klien bebas bergerak, makan dan berbicara, dan    membersihkan mulut, murah dan nyaman serta dapat juga dipakai sebagai kateter penghisap.    
Dapat digunakan dalam jangka waktu lama.
Kerugian: Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen yang lebih dari 44%, tehnik memasukan kateter nasal lebih sulit dari pada kanula nasal, nyeri saat kateter melewati nasofaring, dan mukosa nasal akan mengalami trauma, fiksasi kateter akan memberi tekanan pada nostril, maka kateter harus diganti tiap 8 jam dan diinsersi kedalam nostril lain, dapat terjadi distensi lambung, terjadi iritasi selaput lendir nasofaring, aliran dengan lebih dari 6 liter/mnt dapat menyebabkan nyeri sinus dan mengeringkan mukosa hidung, serta kateter mudah tersumbat dan tertekuk.

b. Kanul Nasal / Binasal / Nasal Prong
             Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen kontinyu dengan aliran 1 – 6 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen sama dengan kateter nasal yaitu 24 % - 44 %. Persentase O2 pasti tergantung ventilasi per menit pasien. Pada pemberian oksigen dengan nasal kanula jalan nafas harus paten, dapat digunakan pada pasien dengan pernafasan mulut.
FiO2 estimation : 1 Liter /min : 24 %
                              2 Liter /min : 28 %
                              3 Liter /min : 32 %
                              4 Liter /min : 36 %
                              5 Liter /min : 40 %
                              6 Liter /min : 44 %
Formula : ( Flows x 4 ) + 20 % / 21 %
Keuntungan :
Pemberian oksigen stabil dengan volume tidal dan laju pernafasan teratur, pemasangannya mudah dibandingkan kateter nasal, murah, disposibel, klien bebas makan, minum, bergerak, berbicara, lebih mudah ditolerir klien dan terasa nyaman. Dapat digunakan pada pasien dengan pernafasan mulut, bila pasien bernapas melalui mulut, menyebabkan udara masuk pada waktu inhalasi dan akan mempunyai efek venturi pada bagian belakang faring sehingga menyebabkan oksigen yang diberikan melalui kanula hidung terhirup melalui hidung.
Kerugian: :
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%, suplai oksigen berkurang bila klien bernafas melalui mulut, mudah lepas karena kedalaman kanul hanya 1/1.5 cm, tidak dapat diberikan pada pasien dengan obstruksi nasal. Kecepatan aliran lebih dari 4 liter/menit jarang digunakan, sebab pemberian flow rate yang lebih dari 4 liter tidak akan menambah FiO2, bahkan hanya pemborosan oksigen dan menyebabkan mukosa kering dan mengiritasi selaput lendir. Dapat menyebabkan kerusakan kulit diatas telinga dan di hidung akibat pemasangan yang terlalu ketat.




c. Sungkup Muka Sederhana
 Digunakan untuk konsentrasi oksigen rendah sampai sedang. Merupakan alat pemberian oksigen jangka pendek, kontinyu atau selang seling. Aliran 5 – 8 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen 40 – 60%. Masker ini kontra indikasi pada pasien dengan retensi karbondioksida karena akan memperburuk retensi. Aliran O2 tidak boleh kurang dari 5 liter/menit untuk mendorong CO2 keluar dari masker.
FiO2 estimation :  5-6 Liter/min : 40 %
                               6-7 Liter/min : 50 %
                               7-8 Liter/min : 60 %
Keuntungan :
Konsentrasi oksigen yang diberikan lebih tinggi dari kateter atau kanula nasal, sistem humidifikasi dapat ditingkatkan melalui pemilihan sungkup berlubang besar, dapat digunakan dalam pemberian terapi aerosol.
Kerugian :
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen kurang dari 40%, dapat menyebabkan penumpukan CO2 jika aliran rendah. Menyekap, tidak memungkinkan untuk makan dan batuk.Bisa terjadi aspirasi bila pasien mntah. Perlu pengikat wajah, dan apabila terlalu ketat menekan kulit dapat menyebabkan rasa pobia ruang tertutup, pita elastik yang dapat disesuaikan tersedia untuk menjamin keamanan dan kenyamanan.

d. Sungkup Muka dengan Kantong Rebreathing
             Suatu teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi tinggi yaitu 35 – 60% dengan aliran 6 – 15 liter/mnt , serta dapat meningkatkan nilai PaCO2. Udara ekspirasi sebagian tercampur dengan udara inspirasi, sesuai dengan aliran O2, kantong akan terisi saat ekspirasi dan hampir menguncup waktu inspirasi. Sebelum dipasang ke pasien isi O2 ke dalam kantong dengan cara menutup lubang antara kantong dengan sungkup minimal 2/3 bagian kantong reservoir. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat untuk mencegah iritasi kulit.
FiO2 estimation : 6 : 35 %
                              8 : 40 – 50 %
                              10 – 15 : 60 %
Keuntungan ;
Konsentrasi oksigen lebih tinggi dari sungkup muka sederhana, tidak mengeringkan selaput lendir.

Kerugian :
Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah, kantong oksigen bisa terlipat atau terputar atau mengempes, apabila ini terjadi dan aliran yang rendah dapat menyebabkan pasien akan menghirup sejumlah besar karbondioksida. Pasien tidak memungkinkan makan minum atau batuk dan menyekap, bisa terjadi aspirasi bila pasien muntah, serta perlu segel pengikat.

f. Sungkup Muka dengan Kantong Non Rebreathing
            Teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi oksigen yang tinggi mencapai 90 % dengan aliran 6 – 15 liter/mnt. Pada prinsipnya udara inspirasi tidak bercampur dengan udara ekspirasi, udara ekspirasi dikeluarkan langsung ke atmosfer melalui satu atau lebih katup, sehingga dalam kantong konsentrasi oksigen menjadi tinggi. Sebelum dipasang ke pasien isi O2 ke dalam kantong dengan cara menutup lubang antara kantong dengan sungkup minimal 2/3 bagian kantong reservoir. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat untuk mencegah iritasi kulit. Kantong tidak akan pernah kempes dengan total. Perawat harus menjaga agar semua diafragma karet harus pada tempatnya dan tanpa tongkat.
FiO2 estimation : 6 : 55 – 60
                             8 : 60 - 80
                             10 : 80 – 90
                              12 – 15 : 90
Keuntungan :
Konsentrasi oksigen yang diperoleh dapat mencapi 90%, tidak mengeringkan selaput lendir.
Kerugian :
Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah. Kantong oksigen bisa terlipat atau terputar, menyekap, perlu segel pengikat, dan tidak memungkinkan makan, minum atau batuk, bisa terjadi aspirasi bila pasien muntah terutama pada pasien tidak sadar dan anak-anak.

2. Sistem Aliran Tinggi
             Memberikan aliran dengan frekuensi cukup tinggi untuk memberikan 2 atau 3 kali volume inspirasi pasien. Alat ini cocok untuk pasien dengan pola nafas pendek dan pasien dengan PPOK yang mengalami hipoksia karena ventilator. Suatu teknik pemberian oksigen dimana FiO2 lebih stabil dan tidak dipengaruhi oleh tipe pernafasan, sehingga dengan tehnik ini dapat menambahkan konsentrasi oksigen yang lebih tepat dan teratur.
Contoh sistem aliran tinggi :
a. Sungkup muka dengan venturi / Masker Venturi (High flow low concentration)
           Merupakan metode yang paling akurat dan dapat diandalkan untuk konsentrasi yang tepat melalui cara non invasif. Masker dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan aliran udara ruangan bercampur dengan aliran oksigen yang telah ditetapkan. Masker venturi menerapkan prinsip entrainmen udara (menjebak udara seperti vakum), yang memberikan aliran udara yang tinggi dengan pengayaan oksigen terkontrol. Kelebihan gas keluar masker melalui cuff perforasi, membawa gas tersebut bersama karbondioksida yang dihembuskan. Metode ini memungkinkan konsentrasi oksigen yang konstan untuk dihirup yang tidak tergantung pada kedalaman dan kecepatan pernafasan.Diberikan pada pasien hyperkarbia kronik ( CO2 yang tinggi ) seperti PPOK yang terutama tergantung pada kendali hipoksia untuk bernafas, dan pada pasien hypoksemia sedang sampai berat.
FiO2 estimation : Biru : 4 : 24
     Kuning : 4 – 6 : 28
     Putih : 6 - 8 : 31
     Hijau : 8 – 10 : 35
     Merah muda : 8 – 12 : 40
     Oranye :12 : 50
Menurut Standar Keperawatan ICU Dep.Kes RI. tahun 2005, estimasi FiO2 venturi mask merk  Hudson :
Warna dan flows ( liter/menit ) FiO2 : Biru : 2 : 24
                                                              Putih : 4 : 28
                                                              Orange : 6 : 31
                                                              Kuning : 8 : 35
                                                              Merah : 10 : 40              Hijau : 15 : 60
Keuntungan
1. Konsentrasi oksigen yang diberikan konstan / tepat sesuai dengan petunjuk pada alat.
2.  FiO2 tidak dipengaruhi oleh pola ventilasi, serta dapat diukur dengan O2 analiser.
3.  Temperatur dan kelembaban gas dapat dikontrol.
4.  Tidak terjadi penumpukan CO2.
Kerugian
1.  Mengikat
2. Harus diikat dengan kencang untuk mencegah oksigen mengalir kedalam mata.
3. Tidak memungkinkan makan atau batuk, masker harus dilepaskan bila pasien makan, minum,
    Atau minum obat.           
4. Bila humidifikasi ditambahkan gunakan udara tekan sehingga tidak mengganggu konsentrasi
     Oksigen.

E.                 .ALAT TERAPI OKSIGEN
a. Ventilator
             Ventilator adalah suatu alat yang digunakan untuk membantu sebagian atau seluruh proses ventilasi untuk mempertahankan oksigenasi. Dapat memberikan FiO2 dari 21 % sampai 100 %. Tujuan ventilasi meknik adalah untuk mempertahankan ventilasi alveolar yang tepat untuk kebutuhan metabolic pasien dan untuk memperbaiki hipoksemia dan memaksimalkan transport oksigen.
b. Inkubator, digunakan untuk bayi, aliran oksigen : 3 – 8 liter/menit dengan FiO2 ± 40 %
c. Anestetik sirkuit : Memberikan oksigen selama operasi.
                                  Pengaturan FiO2 sesuai dengan kondisi pasien ( 21 % - 100 % )
d. CPAP sirkuit
           Tidak hanya mensuplai O2 tetapi juga melatih otot pernapasan dengan memberi Continous Positive Pressure, meningkatkan ekspansi paru sehingga mencegah terjadinya atelektasis
Di berikan pada pasien :
1. Selama proses weaning / penyapihan dari ventilator
2. Pasien yg mengalami ggn oksigenasi tapi masih bisa bernapas secara adekuat
     FiO2 dapat diatur dari 21 % sampai 100 %
e. Oksigen Hood
Memberi oksigen sampai 100% (flow 10-15 L/mnt)
Keuntungan:  Memberi jalan untuk tindakan lebih lanjut ke daerah dada, perut, dan ekstremitas
                        Toleransi oleh bayi baik
                        Dapat memberikan humidifikasi hangat pada temperature yang spesifik.
Kerugian :  Bunyi berisik
                    Tidak dapat untuk anak usia > 1 th
                     Aliran kurang dari 5 liter/menit dapat menyebabkan CO2 Narcosis
f. Oksigen Tent
               Biasanya digunakan untuk bayi, dapat memberikan konsentrasi oksigen sampai 50 % dengan aliran 10-15 liter/menit.
Keuntungan :  Dapat memberikan kelembaban dan dapat memberikan lingkungan yang sejuk  
                         untuk mengontrol suhu tubuh bayi.
Kerugian:  Tingkat kelembaban dan konsentrasi O2 selalu berubah bila oksigen tent setiap saat   
                   dibuka.
G. Humidifier.
              Humidifier adalah alat pelembab udara (Smeltzer & Bare, 2008). Proses penambahan air ke gas (oksigen) yang merupakan humidifikasi (Perry & Potter, 2006). Penggunaan humidifier dalam terapi oksigen merupakan tambahan yang penting karena selain sebagai pelembab oksigen juga sebagai konektor selang oksigen (nasal / masker) yang ke pasien. Selang nasal / masker tidak dapat langsung di sambungkan dengan sumber oksigen. (Perry & Potter, 2006).
b. Tujuan pemakaian humidifier.
Humidifier merupakan alat humidifikasi, diperlukan saat pemberian oksigen sebagai pelembab udara. Kelembapan udara dapat mencegah mukosa saluran pernafasan atas mengalami kekeringan dan iritasi. Humidifikasi juga sangat bermanfaat sebagai ekspektoran yang mudah untuk mempertahankan sekresi. Humidifikasi dibutuhkan karena oksigen dari sentral maupun tabung bersifat kering (Kozier, Erb, Berman, & Snyder, 2004Pasien yang dilakukan bypass dapat memakai humidifier kering bila oksigen yang diberikan kurang dari 40% dan kurang dari 4 jam (Hilton, 2004).

h. tabung oksigen
                Dengan menghirup oksigen murni yang terdapat di dalam Tabung Oksigen maka semua jaringan sel darah merah dalam tubuh menjadi baik untuk mengatasi masalah seperti penyempitan atau penyumbatan sehingga metabolisme tubuh akan lebih baik dan mempercepat pergantian jaringan yang rusak termasuk penyembuhan luka pun akan berlangsung lebih cepat.
Manfaat tabung oksigen:
- Meningkatkan metabolisme tubuh.
- Mengganti jaringan yang rusak.
- Mempercepat penyembuhan luka.
- Menghambat Proses Penuaan (awet muda)
- Diabetes
- Stroke
- Anemia berat
- Luka Bakar
- Mencegah terjadinya kebotakan
- Membunuh berbagai macam bakteri penyebab penyakit dlm tubuh
F.    INDIKASI DAN KONTRA INDIKASI
1. Indikasi
    Adapun indikasi utama pemberian O2 ini adalah sebagai berikut :
a. Klien dengan kadar O2 arteri rendah dari hasil analisa gas darah,
b. Klien dengan peningkatan kerja nafas, dimana tubuh berespon terhadap keadaan hipoksemia   
    melalui peningkatan laju dan dalamnya pernafasan serta adanya kerja otot-otot tambahan   
    pernafasan,
c. Klien dengan peningkatan kerja miokard, dimana jantung berusaha untuk mengatasi gangguan
    O2 melalui peningkatan laju pompa jantung yang adekuat.

  
  Berdasarkan indikasi utama diatas maka terapi pemberian O2 diberikan kepada klien dengan keadaan / penyakit :
a. Hypoxemia / hypoxia
b. Henti nafas dan henti jantung.
c. Gagal nafas
d. Keracunan CO
e. Asidosis
f. Shock dengan berbagai sebab
g. Selama dan setelah operasi
h. Anemia berat
i. Klien dengan gangguan kesadaran.
j. Sebelum , selama , sesudah suction
k. Nyeri dada, infark miokard akut
l. Meningkatnya kebutuhan oksigen, seperti : luka bakar, trauma ganda, infeksi berat, demam
      tinggi, dll
      Menurut Standar Keperawatan ICU Depkes RI tahun 2005, indikasi terapi oksigen adalah :
a. Pasien hipoksia
b. Oksigenasi kurang sedangkan paru normal
c. Oksigenasi cukup sedangkan paru tidak normal
d. Oksigenasi cukup, paru normal, sedangkan sirkulasi tidak normal
e. Pasien yang membutuhkan pemberian oksigen konsentrasi tinggi
f. Pasien dengan tekanan partial karbondioksida ( PaCO2 ) rendah.

2. Kontra indikasi
    Tidak ada kontra indikasi absolut :
a. Kanul nasal / Kateter binasal / nasal prong : jika ada obstruksi nasal.
b. Kateter nasofaringeal / kateter nasal : jika ada fraktur dasar tengkorak kepala, trauma
    maksilofasial, dan obstruksi nasal
c. Sungkup muka dengan kantong rebreathing : pada pasien dengan PaCO2 tinggi, akan lebih                          
    meningkatkan kadar PaCO2 nya lagi.

G.  FISIOTERAPI DADA

Fisioterapi dada merupakan tindakan keperawatan dengan melakukan drainase postural, clapping dan vibrating pada pasien dengan gangguan sistem pernafasan, misalnya penyakit paru paru obstruksi kronis (Bronkhitis kronis), Asma dan Emfisema). Tindakan drainase postural merupakan tindakan dengan menempatkan pasien dalam berbagai posisi untuk mengalirkan sekret di saluran pernafasan. Tindakan postural drainase diikuti dengan tindakan clapping (penepukan) dan vibrating (vibrasi/getaran). Clapping dilakukan dengan menepuk dada posterior dan memberikan getaran (vibrasi) tangan pada daerah tersebut yang dilakukan pada saat pasien ekspirasi. Tindakan drainase postural tidak dapat dilakukan pada pasien dengan penyakit tekanan intrakranial, dispnea berat, dan lansia. Clapping tidak dapat dilakukan pada pasien emboli paru, hemoragie, eksaserbasi dan nyeri hebat (Seperti pasien kanker)

Tujuan Postural Drainase dan Fisioterapi Dada

  1. Meningkatkan efisiensi pola pernafasan
  2. Membersihkan jalan nafas

Alat dan bahan Postural Drainase dan Fisioterapi Dada

  1. Pot sputum berisi desinfektan
  2. Kertas tissue
  3. Dua balok tempat tidur (Untuk drainase postural)
  4. Satu bantal (Untuk drainase postural)
  5. Stetoskop

Prosedur Kerja Postural Drainase dan Fisioterapi Dada

Drainase Postural
  1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
  2. Cuci tangan
  3. Atur posisi
    1. Semi fowler bersandar kekanan, kekiri, lalu kedepan apabila daerah yang akan didrainase pada lobus atas bronkus apikal
    2. Tegak dengan sudut 450 membungkuk ke depan pada bantal dengan sudut 450 ke kiri dsan ke kanan apabila daerah yang akan di drainase bronkus posterior
    3. Berbaring dengan bantal di bawah lutut apabila yang akan di drainase bronkus anterior
    4. Posisi trandelenburg dengan sudut 300 atau dengan menaikkan kaki tempat tidur 35 - 40 cm, sedikit miring kekiri apabila yang akan di drainase pada lobus tengah (Bronkhus lateral dan medial)
    5. Posisi trandelenburg dengan sudut 300 atau dengan menaikkan kaki tempat tidur 35 - 40 cm, sedikit miring ke kanan apabila daerah yang akan di drainase bronkhus superior dan inferior
    6. Condong dengan bantal di bawah panggul apabila yang di drainase bronkus apikal
    7. Posisi trandelenburg dengan sudut 450 atau dengan menaikkan kaki tempat tidur 45 - 50 cm ke samping kanan, apabila yang akan di drainase bronkhus medial
    8. Posisi trandelenburg dengan sudut 450 atau dengan menaikkan kaki tempat tidur 45 - 50 cm ke samping kiri, apabila yang akan di drainase bronkhus lateral
    9. Posisi trandelenburg condong dengan sudut 450 dengan bantal di bawah panggul, apabila yang akan di drainase bronkhus posterior
  4. Lama pengaturan posisi pertama kali adalah 10 menit, kemudian periode selanjutnya kurang lebih 15 - 30 menit
  5. Lakukan observasi tanda vital selama prosedur
  6. Setelah pelaksanaan drainase postural lakukan clapping, vibrasi dan pengisapan (suction)
  7. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.












H.  BUNYI NAPAS NORMAL
Deskripsi
Lokasi
Asal
VESIKULER
Bunyi Vesikuler halus ,lembut dan bernada rendah. fase inspirsi 3 kali lebih lama dari fase ekspirasi
Paling baik didengar diperifer paru (kecuali diatas skapula)
Diciptakan oleh udara yang bergerak melewati jalan nafas yang lebih kecil
BRONKOVESIKULER
Bunyi Bronkovesikuler bernada sedang dan bunyi tiupan dengan intensitas sedang. Fase inspirasi sama dengan fase ekspirasi.
Paling baik didengar secara posterior antara scapula dan anterior diatas bronkeolus disamping sternum pada rongga intercostals pertama dan kedua
Diciptakan oleh udara yang bergerak melewati trakea yang dekat dengan dinding dada
BRONKIAL
Bunyi Bronkial terdengar keras dan bernada tinggi dengan kwalitas bergema. Ekspirasi lebih lama daripada Inspirasi
Paling baik terdengar diatas trakea
Diciptakan oleh udara yang bergearak melewati trakea yang dekat dengan dinding dada

Kelainan/abnormal paru
Bunyi
Daerah yang diauskultasi
Penyebab
Karakter
Krekels (Rales)
Paling umum terdengar di lobus dependen: dasar paru kanan dan kiri
Reinflasi sekolompo alveolus yang acakdan tiba-tiba;aliran udara yang kacau
Krekels halus adalah bunyi kemercik bernada halus tinggi,singkat,yang terdengar diakhir inspirasi,biasanya tidak hilang dengan batuk.
Krekels basah  adalah bunyi yang lebih rendah, lebih lambat terdengar dipertengahan inspirasi;tidak hilang dengan batuk.
Ronki
Terdengar diatas trakea dan bronkus ;jika cukup keras,dapat terdengar disebagian besar bidang paru
Spasme Muskuler, cairan atau mucus pada jalan napas yang besar, menyebabkan turbulensi
Bunyi keras,bernada rendah, bergemuruh, kasar yang paling sering terdengar selama inspirasi atau ekspirasi, dapat hilang dengan batuk.
Mengi
Dapat didengar diseluruh bidang paru
Aliran udara kecepatan tinggi melewai broncus yang mengalami penyempitan berat
Bunyi musikal bernada tinggi dan kontinu seperti berdecit yang terdengar secara kontinu selama inspirasi atau ekspirasi; biasanya lebih keras pada ekspirasi, tidak hilang dengan batuk.
Gesekan Pleura
Terdengar dibidang paru lateral anterior (jika klien duduk tegak)
Pleura yang mengalami inflamasi, pleura parietalis yang bergesekan dengan pleura viseralis
Bunyi kering , berciut yang paling terdengar selama inspirasi ; tidak hilang dengan batuk , terdengar paling keras diatas permukaan anterior lateral





BAB III
PENUTUP

A.KESIMPULAN
Sistem pernapasan atau sistem respirasi adalah sistem organ yang digunakan untuk pertukaran gas. Sistem pernafasan terdiri daripada hidung , trakea , peparu , tulang rusuk ,otot interkosta bronkus bronkiol,alveolus dan diafragma. Udara disedot ke dalam paru-paru melalui hidung dan trakea. Dinding trakea disokong oleh gelang rawan supaya menjadi kuat dan sentiasa terbuka. Trakea bercabang kepada bronkus kanan dan bronkus kiri yang disambungkan keparu-paru. Kedua-dua bronkus bercabang lagi kepada bronkiol dan alveolus pada hujung bronkiol.


A.  SARAN DAN KRITIK
 Tidak lengkap jika penyusunan makalah ini selesai tanpa adanya kritik dan saran dari para pembaca sekalian.  Kami berharap para pembaca akan terus memberikan kritik dan saran  untuk perbaikan selanjutnya sehingga tidak hanya  di pelajari tetapi juga di nikmati karena adanya interaksi antara penulis/penyusun makalah ini dengan para pembaca sekalian. Kami penyusun sangat mengharap kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sekalian.




DAFTAR PUSTAKA

Susanto, Rahmat,2010, Hand out keperawatan medical bedah kardiovaskuler untuk perawat, Jakarta: gramedia.
Astowo. Pudjo, 2005, Terapi oksigen : Ilmu Penyakit Paru. Bagian Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Jakarta : FKUI
Hand out Sakiyan,S.Kep,NS., Kebutuhan oksigenasi.
Hand out Titi Alfiani,S.,Kep.,Ns., Konsep dasar oksigenasi.
Hand out Arif Hendra Kususma ,S.,Kep.,Ns., Terapy Oksigen.
 http://en.wikipedia.org/wiki/oxygen_toxicity
 http://nursingbegin.com/terapi-oksigen/
 http://razimaulana.wordpress.com/2008/11/02/terapi-oksigen/




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar